kewajiban menuntut ilmu
Ceramah
I
Iriyani Fadirubun
6 Mei 2026
4 menit baca
2 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالس...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيزِ: {قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ} [الزمر: 9].
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Hadirin sekalian, para ibu-ibu pengajian yang dirahmati Allah SWT.
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga. Kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, kita haturkan shalawat serta salam.
Senang sekali saya bisa hadir di tengah-tengah Majelis Taklim yang penuh berkah ini. Kehadiran Ibu-ibu sekalian adalah bukti nyata komitmen kita untuk terus belajar dan mawas diri, untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Hari ini, kita akan bersama-sama mengupas sebuah tema yang sangat fundamental dalam ajaran Islam, yaitu Kewajiban Menuntut Ilmu.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Menuntut ilmu bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban yang ditekankan oleh agama kita. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Az-Zumar ayat 9:
{قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ}
Artinya: "Katakanlah: 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran."
Ayat ini secara tegas menunjukkan perbedaan mendasar antara orang yang berilmu dan yang tidak. Orang berilmu adalah mereka yang memiliki pemahaman, yang mampu merenungkan ciptaan Allah, memahami syariat-Nya, dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sementara orang yang tidak berilmu akan senantiasa berada dalam kebingungan dan kemudahan tersesat.
Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam pun telah menegaskan kewajiban ini dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah:
"طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ"
Artinya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim."
Riwayat lain yang juga sangat terkenal dari Al-Baihaqi, bahkan sebagian ulama mengindikasikan statusnya sebagai hadits hasan li ghairihi:
"مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ"
Artinya: "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga."
Masya Allah, betapa besar keutamaan menuntut ilmu. Ia bukan hanya bekal di dunia untuk meraih kemuliaan, melainkan juga kunci untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat. Para ulama kita, seperti Imam Al-Ghazali dalam kitabnya *Ihya Ulumuddin*, menjelaskan bahwa ilmu yang paling utama untuk dituntut adalah ilmu agama. Mengapa? Karena ilmu agama adalah kunci untuk mengenal Allah, memahami perintah dan larangan-Nya, serta beribadah kepada-Nya dengan benar. Tanpa ilmu agama, ibadah kita bisa menjadi sia-sia, bahkan bisa menjerumuskan kita pada kesesatan.
Ibu-ibu sekalian, di zaman modern ini, informasi begitu mudah diakses. Namun, tak semua informasi itu benar dan bermanfaat. Di sinilah pentingnya ilmu. Ilmu yang benar akan membentengi kita dari segala bentuk kebohongan dan kesesatan. Ilmu akan membimbing kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik, istri yang lebih sholehah, ibu yang lebih bijaksana, dan anggota masyarakat yang lebih bermakna.
Menuntut ilmu tidak mengenal usia. Sejak kita bayi hingga akhir hayat, kita dituntut untuk terus belajar. Bagi Ibu-ibu sekalian, menuntut ilmu memiliki peran yang sangat strategis. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita. Ibu yang berilmu akan mampu mendidik anak-anaknya dengan benar, menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini, dan membentengi mereka dari pengaruh buruk lingkungan.
Pernahkah kita merenungkan, betapa banyak kemaksiatan dan kezaliman terjadi lantaran minimnya ilmu? Betapa banyak rumah tangga yang retak karena ketidakpahaman akan hak dan kewajiban suami istri? Betapa banyak penyakit masyarakat yang muncul karena kebodohan dan ketidakpedulian akan pentingnya menjaga kesehatan diri dan lingkungan sesuai tuntunan syariat? Semua ini adalah cerminan dari minimnya pemahaman agama dan ilmu pengetahuan yang dibawanya.
Oleh karena itu, marilah kita jadikan kegiatan pengajian ini sebagai sarana untuk terus menuntut ilmu. Di sini, kita belajar membaca Al-Qur'an dengan benar, memahami tafsirnya, mempelajari hadits-hadits Nabi, mengenal fikih ibadah, dan mendalami akhlak mulia. Ini semua adalah bagian dari kewajiban kita sebagai seorang muslim. Dan ingatlah, usaha ini akan dicatat sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Mari kita hadirkan semangat belajar dalam diri kita masing-masing. Alokasikan waktu meskipun sedikit setiap harinya untuk membaca kitab, mendengarkan kajian, atau bertanya kepada orang yang berilmu. Jangan pernah merasa cukup dengan apa yang sudah kita ketahui. Karena semakin kita belajar, semakin kita sadar betapa luasnya lautan ilmu ini.
Sebagai penutup, Ibu-ibu sekalian, kewajiban menuntut ilmu adalah jalan menuju kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Mari kita jadikan ilmu sebagai penerang jalan kita, bekal terbaik kita dalam mengarungi kehidupan ini. Ingatlah firman Allah:
{وَيَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ} (Al-Mujadalah: 11)
Artinya: "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
Semoga Allah SWT senantiasa membukakan pintu hati dan pikiran kita untuk menerima ilmu, mengamalkannya, dan menjadikannya sebagai amal jariyah yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal 'alamin.
Terima kasih atas perhatiannya, dan mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila ada tutur kata yang kurang berkenan.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.